إِتَّبِــــــعْ طَــــــرِيْقَ الْهُــــدَى * وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ * وَإِيَّاكَ وَطَرِيْقَ الضَّلَالَةِ * وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِيْنَ Bersungguh-sungguhlah dalam mengikuti Baginda Nabi Muhammad SAW, walaupun sedikit orang yang mengamalkannya. Jauhilah segala kemungkaran, dan jangan terbujuk dengan banyaknya orang yang melakukannya.

Rabu, 12 September 2012

PERAN BESAR KAUM 'ALAAWIYYIN DALAM MENGISLAMKAN INDONESIA

Beberapa sejarah baik yang ditulis oleh penulis Barat maupun penulis Timur mengatakan bahwa para pedagang Arab lah ,khususnya kaum Alawiyyin, yang menyebarkan agama Islam di kepulauan Hindia Timur (Indonesia). Sebagian dari mereka menambahkan penjelasan dengan menyebut, bahwa beberapa orang yang menyebarkan agama Islam itu tidak termasuk golongan pedagang, tetapi orang-orang yang khusus mendakwahkan agama Islam dan menyebarkannya dikalangan penduduk setempat. Diantara para pakar sejarah tersebut ialah:

- L.Van Rijck Vorsel dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Melayu ‘Riwayat Kepulauan Hindia Timur’ menyebut, bahwa orang-orang Arab sudah datang dipulau Sumatra 750 tahun lebih dulu sebelum orang-orang Belanda. Akan tetapi kedatangan orang-orang Arab untuk menyebarkan agama Islam dikepulauan itu baru terjadi dalam tahun 1292 M dan penyebaran agama tersebut dilakukan dikalangan kerajaan-kerajaan Pasai.

- Pakar sejarah asing seperti Rowland Son, Sturrock dan Frracis Dai, mengatakan bahwa semenjak abad ke 7 M, bahkan sebelumnya, orang-orang Arab telah bermukim di Hindia Barat, kemudian mereka berpencar keberbagai tempat. Namun mereka lebih mengutamakan tempat tinggal di Malabar. 

- Didalam ‘Encyclopedie Van Nederlandsche Indie’ vol.II P.P. 567 9 Doctor Snouck Hurgronje menyebut, bahwa pengaruh orang-orang Arab dalam penyebaran agama Islam lebih besar daripada (bangsa) yang lain. Pakar sejarah, Prof.Husain Jayadiningrat didalam majalah ‘Bahasa dan Budaya’ menunjuk kepada Encyclopedie tersebut dalam pembicaraannya mengenai Syarif Hidayatullah. 

- R.O.Winstedt, misalnya, ia mengatakan bahwa mereka (para penyebar agama Islam ke Timur) itu datang dari Gujarat. Akan tetapi bersamaan dengan itu ia menunjuk kepada orang-orang Arab yang menuju Kedah, di Semenanjung Melayu, dengan maksud berniaga. Bahkan ia mengatakan juga bahwa agama Islam tersebar dikawasan tersebut pada tahun 915 M. 

- Von Ronkel dan G.E.Marrison, dua-duanya berpendapat bahwa mereka (para penyebar agama Islam ke Timur) datang dari India Selatan, tetapi dua-duanya tidak pula dapat menentukan nama tempat dari mana mereka itu datang. Bahkan Marrison mengatakan, peranan orang-orang yang datang dari Gujarat baru terjadi setelah agama Islam tersebar di Samudera, yakni Aceh. Kaum orientalis yang mengatakan demikian itu tidak memperhatikan kenyataan bahwa kaum muslimin gujarat bermadzhab Hanafi, sedang kan kaum muslimin dinegeri-negeri Timur tidak demikian (bermadzhab Syafi’i).

- Jones didalam bukunya ‘Sufisme Merupakan Bagian Sejarah di Indonesia’ berpendapat, bahwa orang-orang Arab dan lainnya memulai kunjungan mereka secara teratur ke Indonesia sejak abad ke 8 M.

- Diago De Couto, pakar sejarah berkebangsaan Portugal dapat memastikan, bahwa Aceh pada zaman dahulu sudah mempunyai hubungan langsung dengan negeri-negeri Arab. 

- Wilbers bahkan mengatakan bahwa para penyebar agama Islam datang dari negeri Arab. Sama dengan Wilbers, Robertson juga mengatakan bahwa para penyebar agama Islam datang dari Mekkah dan daerah-daerh pantai Laut Merah.

- Hendrik Kern mengatakan, para pedagang Arablah yang menyebarkan agama Islam. Disana terdapat pedagang-pedagang muslimin Arab, dan merekalah yang menyebarkan agama Islam. Pedagang-pedagang Muslimin yang sebagian besar terdiri dari orang Arab menempati pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan pulau-pulau yang berdekatan. Mereka itulah yang menabur benih-benih agama Islam. Demikian juga yang dikatakan oleh Thomas Arnold dan sejarawan sebelumnya, Fransisco Geiter, bahwa orang-orang Arab bermukim didaerah selatan dan mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat. 

- Van den Berg ,seorang penulis berkebangsaan Belanda, ia menyebut, bahwa pengaruh Islam dikalangan pribumi bersumber dari orang-orang Arab yang bergelar Sayyid dan Syarif (yakni kaum Alawiyyin). Berkat upaya dan kegiatan mereka itulah agama Islam tersebar dikalangan raja-raja Hindu di Jawa dan dipulau-pulau lainnya. Meskipun ada orang-orang lainnya yang berasal dari Hadramaut, mereka tidak mempunyai pengaruh Islami. Kenyataan besarnya pengaruh kaum Sayid dan kaum Syarif kembali  kepada martabat mereka sebagai keturunan seorang Nabi dan Rasul pembawa agama Islam, yakni Muhammad saw. 

- Buku ‘Sejarah Serawak’ di Perpustakaan ‘Rafles’ di Singapura menyebutkan, bahwa Sultan Barakat adalah keturunan Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Diterangkan bahwa ia datang dari Tha’if dengan sebuah kapal perang yang sangat terkenal pada masa itu. Dijelaskan lebih jauh, orang itu bernama Barekat bin Thahir bin Ismail (terkenal dengan nama julukan ‘Al-Bashri’, bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Muhamad An-Naqib…dan seterusnya sampai kepada Al-Husain bin Ali bin Abdul Mutholib kw –red.). Kaum Syarif di Mekkah pada umumnya adalah keturunan Al-Hasan ra (bin Ali bin Abi Thalib), sedangkan Barekat adalah keturunan Al-Husain ra. Kaum Syarif di Mekkah tidak melakukan penyebaran agama ke seberang lautan. Yang melakukan kegiatan demikian adalah kaum Sayid keturunan Al-Husain ra yang bermukim di Hadramaut/Yaman Selatan. Kegiatan itu mereka lakukan terutama setelah terjadinya penyerbuan kaum Khawarij sekte Abadhiyyah terhadap Hadramaut. Kota tempat mereka bermukim adalah Bait Jabir, termasuk pusat perniaga an dinegeri itu. Mereka mengumpulkan bekal dari Marbath, kemudian diangkut dengan kafilah ke Yaman.
Dalam sejarah kaum muslimin Philipina dan dalam sejarah Sulu disebutkan, bahwa mereka berasal dari keturunan Abdullah bin Alwi bin Muhamad (penguasa Marbath) bin Ali Khali’ Qasam..dan seterusnya sampai Imam Ali bin Abi Thalib dan Fathimah Az-Zahra binti Muhamad saw. 

- Nageeb M.Saleeby didalam bukunya yang berjudul ‘Department of The Interior Ethnological Survey Publication Studies in More History Law Relegion’ (Manila Bireau of Republic Printing 1905) dalam menyebut sejarah Mindanau mengatakan antara lain:
“Sebelum kedatangan Islam tidak terdapat data sejarah yang akurat, dan tidak terdapat pula kisah atau ceritera-ceritera yang di-ingat orang. Setelah kedatangan Islam barulah tampak penyebaran ilmu (pengetahuan), peradaban dan berbagai kegiatan. Undang-undang dasar yang baru ditetapkan bagi Negara, ketentuan-ketentuan hukum tertulis ditetapkan dan silsilah serta cabang-cabang keturunan dari orang-orang besar dibaku kan, kemudian dengan hati-hati dan dijaga baik-baik oleh semua Sultan dan para bangsawan”. Silsilah tersebut dibakukan dalam sebuah catatan sejarah yang tertulis  dengan bahasa Melayu Tinggi, terjemahannya dalam bahasa Indonesia, sebagai berikut:
“Alhamdulillah, saya yakin sepenuhnya bahwa Allah menjadi saksi atas saya. Buku catatan ini berisi silsilah Rasulallah saw (yaitu mereka) yang tiba di Mandanau. Sebagaimana diketahui, Rasulallah saw mempunyai seorang putri bernama Fathimah Az-Zahra. Putri ini melahirkan dua orang syarif, Al-Hasan dan Al-Husain. Tersebut belakangan (Al-Husain) itulah yang beranak Syarif (Ali) Zainal Abidin...”dan seterusnya.
Keturunan dari Muhamad (Al-Baqir) putera Zainal Abidin (yakni mereka yang datang dari Johor) ialah Ahmad bin Abdullah bin Muhamad bin Ali bin Abdullah bin Alwi (‘Ammul Faqih) bin Muhamad (Shahib Marbath) bin Ali (Khali’ Qasam) bin Alwi bin Muhamad bin Alwi (orang yang pertama disebut ‘Alawi’ dan darinya berasal semua kaum sayid Al-Alawiyyun di Hadramaut) bin Abdullah bin Al-Muhajir bin Isa..dan seterusnya sampai kepada Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin.

- Musyawarah kaum muslimin yang berlangsung di Sidogiri pada tanggal 30-april-1962, dihadiri oleh 165 orang ulama, telah mengambil keputusan dan telah disampaikan kepada pihak-pihak resmi, bahwasanya kaum Alawiyyin berasal dari Hadramaut penganut madzhab Syafi’i adalah orang-orang yang menyebarkan agama Islam di Indonesia. Naskah keputusan tersebut ditanda tangani oleh Ketua Musyawarah, Haji Ahmad Khalil Nawawi dan wakil Sekretaris Abdulgani Ali. Adapun mengenai orang-orang yang menyebarkan agama Islam dinegeri-negeri Timur pada umumnya, dapat dituturkan sebagai berikut: Menurut beberapa buku sejarah Jawa dan menurut sementara kaum orientalis (ahli ketimuran) Barat, dinyatakan bahwa orang-orang Arab lah yang membawa benih-benih agama Islam kenegeri-negeri Timur. Akan tetapi beberapa orang dari kaum orientalis zaman belakangan masih tetap mengikuti pendapat Snouck Hurgronje, yang berpendapat bahwa penyebar agama Islam datang dari India. Meskipun begitu mereka sendiri berbeda pendapat mengenai tempat (di India) darimana (aslinya) para penyebar agama Islam itu datang. 

- Profesor Qaishar Makhul mengatakan, bahwa orang-orang yang datang dari Gujarat dan yang datang dari India Selatan memainkan peranan bersama-sama. Akan tetapi menonjol-nonjolkan peranan mereka dapat meniadakan peranan yang dimainkan oleh kaum Syarif, para ulama dan para pedagang Arab. Selain itu dapat juga meniadakan peranan kaum muslimin Melayu dalam menyebarkan agama Islam.
Ia mengatakan juga, tidaklah bertentangan dengan pemikiran kami sendiri jika kami mengatakan, bahwa sebagian besar penyebar agama Islam di Malaysia (Semenanjung Melayu) yang datang melalui India adalah orang-orang Arab atau orang-orang India peranakan Arab. Lebih lanjut ia mengemukakan, tidaklah mustahil bahwa sebagian penduduk setempat (kaum pribumi) memeluk agama Islam berkat kegiatan individual yang dilakukan oleh kaum Syarif berkebangsaan Arab, dari keturunan Sayiduna Ali (bin Abi Thalib) dan sejumlah kaum pedagng yang bertakwa.

- Prof.Abdul Mun’im Al-Adwiy didalam majalah ‘Al-Arab’ yang terbit di Karaci (Pakistan) mengatakan: Kita mempunyai kenangan indah tentang saudara-saudara kita orang-orang Hadramaut dan Yaman, yang telah memasukkan agama Islam ke Indonesia, Malaysia, Thailand dan negeri-negeri dikawasan Timur Jauh lainnya. Mereka telah meninggalkan berbagai pusaka yang baik dikerajaan Ashifiyyah (Emirat Haidarabad), Malabar (India bagian Selatan) dan di Kitiyawara.  Lebih lanjut ia mengatakan: Orang-orang Arab lah yang pertama masuk ke Citagong, di Teluk Benggala. Kemudian nama tersebut mereka gunakan untuk menyebut nama sungai Qani’. Oleh orang-orang Inggris nama ‘Citagong’ dirubah menjadi ‘Cinagong’ dan dalam bahasa Benggali disebut sungai Syanjim. Penduduk pulau Akyah dekat perbatasan Burma (Myanmar) hingga sekarang penduduknya masih berbicara dengan bahasa Arab diantara sesama mereka. Selain itu mereka juga hingga sekarang masih tetap menjaga baik-baik nasab dan asal-usul serta tradisi mereka. Mereka adalah keturunan orang-orang Arab Hadramaut dan Yaman. Demikian juga, penduduk dipulau-pulau Maladef, hingga sekarang masih tetap mempertahankan ke-arab-an tradisi mereka yang asli. 

- Doktor Hamka mengatakan, bahwa kaum pendatang itu adalah orang-orang Arab atau asal keturunan Arab. Di antara mereka ada yang datang dari Gujarat, dari Persia dan ada pula yang dari tanah Melayu. Pada bagian lain dari bukunya ‘Sejarah Ummat Islam’, Doktor Hamka menegaskan bahwa agama Islam datang langsung (di Indonesia) dari negeri Arab. Orang-orang Indonesia berkeyakinan kuat dan secara turun-temurun percaya, bahwa mereka menerima agama Islam dari orang-orang Arab, ada yang sebagai guru yang mendakwahkan agama dan ada pula orang-orang sayid dan syarif dari keturunan Rasulallah saw. Lebih jauh Hamka mengemukakan, tidak sedikit orang-orang keturunan Sadah (kaum sayid) dan keturunan para sahabat Nabi yang datang dari Malabar. Mereka mempunyai hubungan langsung dengan negeri-negeri Arab. Beliau mengetahui bahwa seorang guru tasawwuf, Abu Mas’ud Abdullah bin Mas’ud Al-Jawi, mengajar sebagai guru dinegeri Arab. Diantara murid-muridnya ialah seorang ulama Sufi (ahli tasawwuf) bernama Abdullah Al-Yafi’i (1300-1376M), penulis buku ‘Riyadhur-Rayyahin fi Hikayatis-Shalihin’. Disebut juga bahwa Syarif Ali Ad-Da’iyah nikah dengan puteri saudara Sultan Muhamad, Sultan Brunai. Setelah wafat, kesultanan diserahkan kepada saudaranya yang bernama Ahmad. Sebagaimana diketahui Syarif Ali adalah Sultan ke tiga di Brunai. Beliau wafat pada permulaan abad ke 15 dan kesultanannya diserahkan kepada puteranya yang bernama Sulaiman. 

Doktor Hamka mengatakan juga bahwa orang-orang keturunan Arab, khususnya kaum Sayid, beroleh kedudukan dan martabat sangat terhormat. Keturunan mereka memegang tampuk kesultanan Aceh. Sultan yang pertama ialah Sultan Badrul-‘Alam Asy-Syarif Hasyim Jamalullail (1699-1702M), kemudian Sultan Perkasa Alam Asy-Syarif Lamtsawiy Asy-Syarif Ibrahim Abriy. Hingga tahun 1946 M beberapa orang perwira yang memimpin pasukan bersenjata di Aceh terdiri dari keturunan Arab. Sultan-sultan Perlis dari keluarga Jamalullail dan Sultan yang sekarang (yakni pada masa Hamka menulis bukunya) ialah Tuanku Sayid Putera bin Almarhum Hasan Jamalullail. Sebagai pembuktian tentang ke-arab-an para penyebar agama Islam beliau mengemukakan, bahwa diantara mereka itu adalah Syeikh Islam’il dan Sayid Abduaziz yang telah berhasil mengislamkan ‘Prameswara’. Sedangkan Syeikh Abdullah Arif dan Malik Ibrahim sendiri adalah keturunan (Ali) Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib bermukim di Gresik. Demikian juga Syarif Hidayatullah adalah keturunan Muhamad Rasulallah saw. Kedatangan para sayid dari kaum Alawiyyin dari Hadramaut terjadi pada masa hidupnya Sultan Iskandar Muda di Aceh. (semua uraian yang bersumber dari Hamka ini didasarkan buku beliau ‘Sejarah Umat Islam’ jilid 4 hal.21,42,46,47 dan buku beliau ‘Tuanku Rau Antara Fakta dan Khayal’, hal. 332). Dalam buku Hamka  “Seminar Sejarah” (Islam) hal.75, mengatakan: Harus diakui bahwa kaum Sayid dan kaum Syarif (kaum Alawiyyin) sudah sejak semula telah mengambil bagian dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.

- Doctor Hamka didalam bukunya “Sejarah Ummat Islam’ jilid 4 mengatakan, didalam ceritera-ceritera rakyat yang tertulis banyak disebut tokoh-tokoh penting yang berasal dari keturunan Rasulallah saw. Raja-raja dikepulauan Maluku, misalnya, disebut bahwa mereka itu berasal dari keturunan Jakfar As-Shadiq (cicit Rasulallah saw). Disebut juga bahwa seorang Sayyid dari kaum Alawiyyin datang dibeberapa daerah Timur Indonesia untuk menyebarkan agama Islam. Banyak pula dibicarakan orang bahwa seorang Sayid lainnya yang berada dikerajaan Kutai datang dari Demak. Ceritera-ceritera seperti itu meskipun tidak ditunjang oleh data tertulis atau tidak diperkuat dengan hujjah (argumentasi), bagaimanapun juga pasti mempunyai asal kenyataan yang sebenarnya, bukan hanya sekedar ceritera yang menunjukkan betapa besar peranan orang-orang Arab dalam penyebaran agama Islam dinegeri Melayu. Peranan yang tidak dapat kita lupakan. 

- Prof.Abdulmun’im An-Namr dalam bukunya yang berjudul ‘Sejarah Islam di India’ mengatakan, bahwa pada zaman dahulu orang-orang Arab pergi ke Teluk Benggala, kenegeri Melayu dan kepulauan Indonesia. Diantara mereka terdapat sejumlah pedagang dan pelaut-pelaut Hadramaut dan lain-lain. Mereka datang kenegeri-negeri tersebut membawa agama mereka yang baru (Islam) dan bermu’amalat dengan kaum pribumi. Sumber-sumber yang terkenal dari penduduk setempat menuturkan bahwa agama Islam sampai ke Philipina dibawa oleh tujuh orang Arab bersaudara, semuanya berasal dari Semenanjung Arabia. Diantara mereka yang paling terkenal bernama Abubakar. Ia datang sekitar tahun 1450M. Kemudian ia oleh penduduk setempat diberi gelar Paduka Maha Sari Maulana Sultan Syarif Al-Hasyimi, yaitu sebagaimana tertulis pada pusaranya. Kesultanannya diwarisi secara turun-temurun. Salah satu diantara tujuh orang bersaudara tersebut diatas ialah Sayid Ali Al-Faqih, penyebar agama islam dipulau Tawai-tawai dan sekitarnya. Di Budi Datu, dipulau Julu (Jolo), terdapat pusara seorang dari mereka tertulis diatasnya ‘tahun 710H. Mungkin ia orang pertama yang datang kepulau Sulu untuk menyebarkan agama Islam dikalangan penduduk tempat.

- Prof.Husain Naimar setelah tinggal di Indonesia selama kurun waktu tertentu, menulis sebuah buku mengenai hubungan India dengan Indonesia dan penyebaran agama Islam dikalangan penduduknya. Ia berpendapat bahwa para penyebar agama Islam adalah kaum Sayid dari Alawiyyin yang datang dari India. Ia pulang ke India untuk menerbitkan bukunya dalam bahasa Inggris.

- Salim Harahap berdasarkan penuturan Dauzi menyebutkan, bahwa agama Islam masuk ke Kalimantan melalui sekelompok orang Arab dari Palembang. Sebagaimana diketahui Palembang adalah tempat hijrah kaum Alawiyyin dan tempat permukiman mereka. Sebagian besar kaum Alawiyyin yang menuju ke Indonesia pada umumnya datang di Palembang. Kemudian ada sebagian yang menetap disana dan ada pula yang berpencar dipulau-pulau lainnya. Karena itu di Palembang kita temukan keluarga-keluarga kaum Alawiyyin lebih banyak daripada yang kita temukan dikawasan-kawasan lain.

- Tabloid kebudayaan ‘Al-‘Ilm’, yang terbit di Rabat (Marokko) pernah menyebut, bahwa agama Islam masuk ke Philipina pada pertengahan kedua abad ke 14 M melalui sekelompok kaum Syarif Alawiyyin yang datang kenegeri itu. Lebih lanjut dikatakan, bahwa merekalah yang telah membawa panji dakwah islam kesana dan turut serta aktif dalam pembangunan negeri, turut mengembangkan lembaga-lembaga sosial, kebudaya an dan politik.

- Snouck Hurgronje mengatakan: Sebagian besar penyebar agama Islam datang dari negeri jauh. Pada galibnya mereka datang dari negeri Arab. Mereka digelari Sayid karena mereka dari keturunan Al-Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad saw. Snouck Hurgronje menuturkan dalam ‘Ancyclopedie van Nederlandsche Indie’ vol.IIXV P.P.576-9, bahwa orang-orang Persia dan India (Malabar dan Krumendal) mempunyai pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di negeri ini (Hindia Belanda). Kendati demikian tidak ada yang dapat mengingkari betapa besar pengaruh orang-orang Arab yang datang dari Mekkah, khususnya dalam kehidupan keagamaan Islam. Pengaruh mereka jauh lebih besar dari pengaruh Turki, atau India atau Bukhari. Pengaruh mereka itu  demikian Snouck Hurgronje lebih lanjut  sangat terang dalam abad-abad ke 18 dan ke 19 M yaitu pada masa-masa mulai berkobarnya semangat melawan kolonialisme, yakni ketika imprealisme Belanda berusaha memperkokoh kekuasaannya di Indonesia, dan imperialisme Inggris di Malaya. Dalam menghadapi imperialisme tumbuh rasa keagamaan sangat kuat dalam berhubungan dengan orang-orang Arab. 

- Buku ‘Sejarah Alam Melayu’ menuturkan, bahwa di Hadramaut terdapat golongan kaum Sayid dan kaum Syarif. Merekalah yang disebut ‘Kaum Alawiyyin’. Dari golongan itu banyak bermunculan orang-orang besar, datang kepulau Jawa dan tanah Melayu. Mereka beroleh kedudukan tinggi di Perak. Sebagian dari mereka berkedudukan sebagai Sultan di Perlis dan di Siak. Pada masa-masa berikutnya jumlah orang Arab pendatang semakin banyak dan menjadi lebih banyak lagi karena mereka melahirkan banyak keturunan, sehingga jumlah haji di tanah Melayu makin bertambah banyak juga.

- Di Brunai terdapat beberapa pusara kuno, antara lain sebuah pusara yang diatasnya tertulis dengan huruf-huruf Arab sebagai berikut: “Al-Alawi Al-Bulqiyah Ad-Dahriyah Sulthan Umar Ali Saifuddin”. Pada pusara yang lain tertulis: “Hijrah 836 Jumadil-Ula Dahri Ali Sulthan Syarif Ali Sulthan Brunai”. Pada pusara yang lain lagi tertulis: “Muhamad Alwi Raja Junjungan”.

- Prof. Al-Qari bin Haji Shaleh setelah membuktikan betapa lama sudah hubungan orang-orang Arab dengan negeri-negeri Timur (berdasarkan buku-buku sejarah yang ditulis oleh berbagai pihak), menyebutkan bahwa kedatangan orang-orang Arab Alawiyyin dari Hadramaut kenegeri kita (yakni ditanah Melayu) membawa agama Islam, membuat sebagian dari mereka beroleh kedudukan tinggi ditengah masyarakat. Demikianlah yang dikatakan olehnya didalam bukunya ‘Pengkajian Sejarah Islam’ hal. 315.

- Di Pariaman , menurut Doktor Hamka, dan Sumatra Barat terdapat banyak keturunan raja-raja yang mempunyai hubungan darah dengan kerajaan Pagaruyung. Mereka bergelar ‘Sultan’. Sedangkan mereka yang mempunyai hubungan darah dengan ke sultanan di Aceh bergelar ‘Bagindo’. Keturunan para Sayid bergelar ‘Sidi’. Saudara Syaaf, pemimpin redaksi surat kabar ‘Abadi’ adalah seorang dari keturunan mereka, raut mukanya masih tetap seperti orang Arab. Hamka menyebut juga bahwa seorang Sayid yang datang ke kerajaan Riau beroleh kedudukan terhormat. Ia bernama Sayid Zainal Husaini Al-Qudsi (Engku Kuning) [tidak ada silsilahnya, yakni tidak tercatat didalam daftar silsilah yang dihimpun oleh Rabithah Alawiyyah, Jakarta]. Keturunannya masih terdapat di Daik dan Lingga.

Mengenai hubungan antara pulau Jawa dan negeri-negeri Arab, menurut sumber berita sejarah dari negeri Cina, Hsin Tang Shu, sudah terjadi semenjak abad ke 7 M. Hal itu dibenarkan oleh para pengembara Arab sendiri. Tidak diragukan lagi pada masa itu pelabuhan-pelabuhan dikawasan Asia Tenggara menjadi tujuan kaum pedagang Arab. Bahkan disemua kota perniagaan terdapat pedagang-pedagang beragama Islam. Demikianlah menurut penuturan Prof.Gabril Feyrand didalam bukunya (edisi Arab) ‘Ashlun-Nassh Al-‘Arabiy’. Apa yang dikatakan olehnya itu disebut juga oleh Prof.Paul Weathley dalam bukunya ‘The Golden Khersonese’. Dua naskah dari buku Feyrand itu masih tersimpan didalam museum Inggris.

- Seorang penulis wanita bernama Nia Kurnia Solihat dalam makalahnya menyebut adanya pusara Fatimah binti Maimun yang wafat pada tanggal 7 Rajab 475 H (02-12-1083 M). Kenyataan itu menunjukkan adanya masyarakat Islam pada zaman kerajaan Penjalu di Kediri. Karenanya tidak anehlah jika dalam buku-buku ceritera rakyat banyak terdapat kata-kata Arab, seperti buku-buku yang disusun oleh Panuluh. Penulis wanita ini menyebutkan, bahwa surat kabar Indonesia ‘Berita Yuda’ tanggal 13-10-1980 memuat sebuah makalah yang ditulis oleh Suwarno, dibawah judul ‘Raja Jayabaya’. Dikatakan bahwa raja Jayabaya telah memeluk agama Islam. Pernyataan itu didasarkan pada buku-buku ceritera yang menyebut keisalaman Jayabaya ditangan seorang Arab bernama Maulana Ali Syamsu Zain. Penuli ini mengatakan lebih lanjut; Meskipun apa yang ditulis dalam buku-buku ceritera itu belum dapat dipastikan kebenarannya, namun banyak sekali ceritera-ceritera didalamnya yang benar-benar berasal dari sejarah yang menunjukkan bahwa agama Islam sudah masuk ke Jawa pada masa kerajaan Penjalu. Tidaklah sulit bagi kita untuk sampai kepada kesimpulan, bahwa agama Islam sudah masuk ke Jawa pada abad ke 12 dan ke 13 M, yakni pada masa kerajaan Singosari dan kerajaan Majapahit.

Hal itu diperkuat lagi oleh petunjuk-petunjuk sejarah yang alin. Yaitu adanya pusara-pusara di Taralaya, dekat Trawulan. Pada kuburan-kuburan itu terdapat tulisan-tulisan Arab dan ayat-ayat Al-Qur’an. Sejarah pusara-pusara itu telah diteliti dan dipelajari oleh Prof.L.C.Damais. Ternyata terdapat juga petunjuk berupa penanggalan tahun Saka, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku pada masa itu. Selain itu terdapat satu bukti yang tertulis dengan penanggalan Hijriah, yaitu tahun 874 H (1469 M). Yang dimakamkan dikuburan tersebut bernama Zainuddin. Tahun-tahun Saka yang tertulis diatas kuburan-kuburan di Taralay, menurut penanggalan Hijriah adalah tahun 680 H atau tahun 1281 M, yakni pada zaman raja Kartanegara, salah seorang dari raja-raja Singosari. 

- Cho Fan Cho, penulis kebangsaan Cina, mengatakan banyak pedagang asing yang menuju ke Penjalu. Mata uang emas dan perak sudah dipergunakan dipasar-pasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...